Entri Populer

Senin, 30 Desember 2013

PENGALAMAN MENDAMPINGI

     
             

KUNJUNGAN LAPANGAN mendampingi Koordinator Provinsi, Nanang Legowo (bertopi coklat, kiri), Fasilitator Kabupaten Belitung Timur, Tri Haryono (bertopi biru dan bercelana jeans), Sp.KIE, dan Pengurus TPK Desa Labuhan Mandi.(Dok.Sp.KIE Kep.Babel)
             
                     

                                       

                   BANGGANYA SAYA MENJADI FASILITATOR                        KECAMATAN PNPM MPd.INTEGRASI


TAK kenal, maka tak sayang. Tak sayang, maka tak cinta. Pepatah lama itu sungguh pas dengan yang saya alami dan kerjakan sekarang ini. Sejujurnya, menjadi seorang Fasilitator Kecamatan Pemberdayaan (FKP) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MPd.) Integrasi di Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur,  tak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya.

Mendengar istilah FKP pun saya belum pernah, kecuali saat akan memasukkan lamaran pekerjaan dalam program nasional tersebut. Terbayang bukan bagaimana gelap pengetahuan saya tentang kerja seorang Fasilitator Kecamatan Pemberdayaan (FKP). Melalui bacaan di internet kiranya yang bisa membantu saya meraba-raba apa dan bagaimana pekerjaan seorang FKP.  Pekerjaan purna waktu dan penuh tantangan ini jauh berbeda dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan saya sebelum ini sebagai agen asuransi di salah satu perusahaan asal Toronto, Kanada.

Selama ini,  saya sama sekali tidak mengetahui hal-hal yang berurusan program dan pekerjaan yang berkaitan dengan kemasyarakatan dan pemerintahan pusat dan daerah. Tapi,  jika orang lain memahami dan mampu bekerja sebagai seorang FK Pemberdayaan mengapa saya tidak? Motivasi itulah yang membuat saya memberanikan diri untuk melamar sebagai seorang Fasilitator Kecamatan Pemberdayaan dalam PNPM MPd. Hari-hari pertama menjadi seorang Fasilitator layaknya seseorang yang sedang meraba-raba sekitar dalam kondisi yang gelap.

Tapi, beruntung saya dibimbing dan disupervisi oleh Tim Fasilitator Kabupaten yang sudah cakap dalam bidangnya masing-masing baik pemberdayaan, teknik maupun keuangan. Mereka banyak  membantu, memberi berbagai masukan dan pengetahuan yang mendalam tentang bagaimana menjadi seorang Fasilitator yang digariskan program. Ya, karena memang mereka juga pernah menjadi seorang Fasilitator Kecamatan seperti saya. Butuh waktu dua bulan supaya saya mengerti dan paham alur tahapan yang ada dalam PNPM Integrasi.  Jujur, inilah kali pertama saya berinteraksi langsung dengan pelaku-pelaku desa,  karena kalaupun saya ke desa hanya bertemu sekretaris desa dan kepala desa meminta surat pengantar untuk keperluan pribadi.

Pada hari-hari pertama bertugas sebagai Fasilitator Kecamatan saya sudah harus turun ke lapangan untuk bertemu pelaku-pelaku PNPM Integrasi di kecamatan maupun desa-desa. Tak berhitung bulan, saya pun harus menghadiri acara Musyawwarah Antar Desa (MAD) Prioritas atau MAD PNPM Integrasi tahun anggaran (T.A.) 2013.  Usai MAD II dan kegiatan-kegiatan lain yang ada dalam alur tahapan kegiatan, saya pun memahami visi, misi dan tujuan  PNPM Integrasi. Saya pun berusaha terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan para pelaku demi suksesnya PNPM Integrasi.
Kecamatan Damar tempat saya mengabdi memiliki 5 desa, dan dari  5 desa ada 2 desa yang terdanai oleh bantuan langsung masyarakat (BLM) PNPM MPd. Integrasi .TA. 2013, yakni Desa Mempaya dan Desa Sukamandi. Desa Mempaya mendapatkan dana untuk usulan pembangunan drainase dan Desa Sukamandi untuk pembukaan dan pembangunan jalan tanah puru. Dari dua desa dengan dua usulan tersebut,  saya mendapat pengalaman berharga. Ketika turun  lapangan bersama Tim Verifikasi (TV)-tim yang dibentuk di kecamatan-ke Desa Mempaya untuk mengukur volume dan menentukan kebutuhan materialsaya yang didampingi oleh Fastekab saat itu dihampiri oleh seorang wanita tua-saya  lupa menanyakan nama- dan senang hati menyambut kami.

“Kalau hujan rumah saya ini seperti kolam, karena air masuk rumah. Saya senang karena di depan rumah saya ada pembangunan drainase,” ungkap  wanita tua itu dengan wajah berkaca-kaca. Yang membuat hati saya terenyuh lagi, saat dia menyatakan harapan dengan akan dibuatkan drainase, rumahnya tidak lagi menjadi kolam apabila hujan turun dengan lebatnya.  Ucapan perempuan itu dibenarkan seorang bapak yang menjabat salah satu Ketua RT. “Bukannya tidak akan dibangun drainase di sini, akan tetapi usulan pembangunan drainase belum terdanai. Saya lupa desa pernah mengusulkan soal pembangunan drainase ke intansi mana,” ungkap ketua RT itu.
Tapi bersyukur sekali sambung ketua RT itu, saat proposal usulan pembangunan drainase diajukan pada PNPM MPd. Integrasi langsung disepakati dan dapat didanai. Hal ini karena memang usulan prasarana fisik tersebut  berangkat dari kebutuhan warga dan memang bermanfaat untuk warga sekitar. Saat tulisan ini saya buat, pembangunan drainase di Desa Mempaya sudah memasuki progress (kemajuan) fisik 95%. Saya pun melihat langsung pekerjaan pembuatan saluran pembuanan air tersebut begitu rapi dan cepat dikerjakan. Membuat saya merasa senang sebagai seorang Fasilitator karena ada kerjasama yang baik dari Tim Pengelola Kegiatan (TPK) yang dipilih langsung masyarakat sebagai pengelola keuangan dan pengawas pekerjaan. Masyarakat pun dengan sangat baik dan ramah dapat menerima kehadiran saya sebagai Fasilitator. Semoga pada pengujung tahun yang biasanya memasuki musim penghujan, tidak lagi menjadi kekhawatiran warga sekitar lokasi kegiatan pembangunan drainase setelah sudah ada saluran pembuangan air yang dibangun melalui dana PNPM MPd. Integrasi.

Pengalaman yang menarik juga saya dapatkan dari Desa Sukamandi, yang selama sepuluh tahun lalu, mengajukan usulan pembangunan jalan tanah puru. Namun, tak jua usulan masyarakat tersebut diluluskan dan didanai proyek atau program lain. Sampai akhirnya diusulkan dan didanai PNPM MPd. Integrasi tahun anggaran 2013 setelah 10 tahun menanti pembangunan tanah puru.  Saat ini pekerjaan pembangunan jalan tanah puru sepanjang 4.000 meter di Desa Sukamandi telah selesai  hanya dalam waktu kurang lebih 30 hari. Betapa solid dan semangat para pengurus TPK dan pelaku-pelaku lain dalam membangun jalan tanah puru yang menjadi dambaan warga puluhan tahun. Warga yang bermukim di sepanjang lokasi pekerjaan demikian antusias dan senang luar biasa.Saya pun senang dan bangga menjadi Fasilitator Kecamatan PNPM MPd. Integrasi,  meski ke lapangan harus melawan terik panas matahari. Tapi, hal itu terbayarkan lunas setelah melihat pembangunan drainase dan pembuatan jalan tanah puru yang rapi. Apalagi kurang lebih ada 50 kepala keluarga (KK) yang bermukim di sekitar lokasi dan tentu menjadi penerima manfaat pembangunan jalan tanah puru.  Saya tidak sabar untuk menanti tahun kedua saya menjadi Fasilitator Kecamatan. Entah cerita apalagi dan pengalaman apa yang akan saya rasakan tahun selanjutnya. Terlebih lagi usulan-usulan yang akan terdanai PNPM MPd. Integrasi akan mengarah pada Peningkatan Ekonomi Pendapatan (PEP).Bayangkan berapa banyak orang atau keluarga yang meningkat kualitas dan taraf hidupnya apabila usulan-usulan yang terdanai PNPM MPd. Integrasi tepat sasaran dan mengacu kepada PEP.  Besar harapan saya, melalui PNPM MPd. Integrasi, masyarakat lebih banyak yang diberdayakan. Kemiskinan pun tidak lagi menemani mereka yang masih berada di bawah garis kemiskinan.

(Loranita, FK PNPM MPd.Integrasi, Kec.Damar, Kab.Belitung Timur)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar