 |
| KUNJUNGAN LAPANGAN mendampingi Koordinator Provinsi, Nanang Legowo (bertopi coklat, kiri), Fasilitator Kabupaten Belitung Timur, Tri Haryono (bertopi biru dan bercelana jeans), Sp.KIE, dan Pengurus TPK Desa Labuhan Mandi.(Dok.Sp.KIE Kep.Babel) |
BANGGANYA SAYA MENJADI
FASILITATOR KECAMATAN PNPM MPd.INTEGRASI
TAK kenal, maka tak sayang. Tak sayang, maka tak cinta. Pepatah lama itu sungguh
pas dengan yang saya alami dan kerjakan sekarang ini. Sejujurnya, menjadi seorang Fasilitator Kecamatan Pemberdayaan (FKP) Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MPd.) Integrasi di Kecamatan Damar, Kabupaten
Belitung Timur, tak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya.
Mendengar
istilah FKP pun saya belum pernah, kecuali saat akan memasukkan lamaran pekerjaan
dalam program nasional tersebut. Terbayang bukan bagaimana gelap pengetahuan saya tentang kerja seorang Fasilitator Kecamatan
Pemberdayaan (FKP). Melalui
bacaan di internet kiranya yang bisa membantu saya meraba-raba
apa dan bagaimana pekerjaan seorang FKP. Pekerjaan purna waktu dan penuh tantangan
ini jauh berbeda dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan saya sebelum
ini sebagai agen asuransi di salah satu perusahaan asal Toronto, Kanada.
Selama
ini, saya sama sekali tidak mengetahui hal-hal yang berurusan program dan
pekerjaan yang berkaitan dengan
kemasyarakatan dan pemerintahan
pusat dan daerah. Tapi,
jika orang lain memahami dan mampu bekerja sebagai seorang FK
Pemberdayaan mengapa saya tidak? Motivasi itulah yang membuat saya memberanikan diri
untuk melamar sebagai seorang Fasilitator Kecamatan Pemberdayaan dalam
PNPM MPd. Hari-hari
pertama menjadi seorang Fasilitator layaknya seseorang yang sedang meraba-raba sekitar
dalam kondisi yang gelap.
Tapi, beruntung saya dibimbing dan disupervisi oleh Tim Fasilitator Kabupaten yang sudah cakap dalam bidangnya
masing-masing baik pemberdayaan, teknik maupun keuangan. Mereka banyak membantu, memberi
berbagai masukan dan pengetahuan yang mendalam tentang
bagaimana menjadi seorang Fasilitator yang digariskan program. Ya, karena memang mereka juga pernah menjadi seorang Fasilitator Kecamatan
seperti saya. Butuh waktu
dua bulan supaya saya
mengerti dan paham alur tahapan yang ada dalam PNPM Integrasi. Jujur, inilah kali pertama saya berinteraksi langsung dengan pelaku-pelaku desa, karena kalaupun saya ke desa hanya bertemu
sekretaris desa dan kepala desa meminta surat pengantar untuk keperluan pribadi.
Pada hari-hari pertama bertugas sebagai Fasilitator Kecamatan saya sudah harus turun ke lapangan untuk
bertemu pelaku-pelaku PNPM Integrasi di kecamatan maupun desa-desa. Tak
berhitung bulan, saya pun harus menghadiri acara Musyawwarah Antar Desa (MAD) Prioritas atau MAD PNPM
Integrasi tahun anggaran (T.A.) 2013. Usai MAD II
dan kegiatan-kegiatan lain yang ada dalam alur tahapan kegiatan, saya pun memahami
visi, misi dan tujuan PNPM Integrasi. Saya pun
berusaha terus berkoordinasi
dan berkomunikasi dengan para pelaku demi suksesnya PNPM Integrasi.
Kecamatan
Damar tempat saya mengabdi memiliki 5 desa, dan dari 5 desa ada 2 desa yang
terdanai oleh bantuan langsung masyarakat (BLM) PNPM MPd. Integrasi
.TA. 2013, yakni
Desa Mempaya dan Desa Sukamandi. Desa Mempaya mendapatkan dana
untuk usulan pembangunan drainase dan Desa Sukamandi untuk pembukaan dan pembangunan jalan tanah puru. Dari dua desa
dengan dua usulan tersebut, saya mendapat pengalaman berharga.
Ketika turun lapangan bersama Tim Verifikasi (TV)-tim yang
dibentuk di kecamatan-ke Desa Mempaya untuk mengukur volume dan menentukan
kebutuhan material, saya yang didampingi oleh Fastekab
saat itu dihampiri oleh seorang wanita tua-saya
lupa menanyakan nama- dan senang hati menyambut kami.
“Kalau hujan rumah saya ini seperti kolam, karena air
masuk rumah. Saya senang karena di depan rumah saya ada pembangunan drainase,” ungkap wanita tua itu dengan wajah berkaca-kaca. Yang membuat
hati saya terenyuh lagi, saat
dia menyatakan harapan dengan akan dibuatkan drainase, rumahnya tidak lagi menjadi kolam apabila hujan turun dengan lebatnya. Ucapan perempuan itu dibenarkan seorang bapak yang menjabat salah satu Ketua RT. “Bukannya tidak akan dibangun drainase di sini, akan tetapi usulan pembangunan drainase belum terdanai. Saya lupa desa pernah mengusulkan soal
pembangunan drainase ke
intansi mana,”
ungkap ketua RT itu.
Tapi bersyukur sekali sambung ketua
RT itu, saat proposal
usulan pembangunan drainase diajukan pada PNPM MPd. Integrasi langsung disepakati dan dapat didanai. Hal ini karena memang usulan prasarana
fisik tersebut berangkat dari kebutuhan warga dan memang bermanfaat untuk warga
sekitar. Saat tulisan ini saya buat, pembangunan drainase di Desa Mempaya sudah memasuki progress (kemajuan) fisik
95%. Saya pun melihat
langsung pekerjaan pembuatan saluran pembuanan air tersebut begitu rapi dan
cepat dikerjakan. Membuat saya merasa senang sebagai seorang Fasilitator karena
ada kerjasama yang baik dari Tim Pengelola Kegiatan (TPK) yang dipilih langsung
masyarakat sebagai pengelola keuangan dan pengawas pekerjaan. Masyarakat
pun dengan sangat baik dan ramah dapat menerima kehadiran saya sebagai Fasilitator. Semoga
pada pengujung tahun yang
biasanya memasuki musim
penghujan, tidak lagi menjadi kekhawatiran warga sekitar lokasi kegiatan
pembangunan drainase setelah sudah ada saluran pembuangan air yang dibangun melalui dana PNPM MPd. Integrasi.
Pengalaman yang menarik juga saya dapatkan dari Desa
Sukamandi, yang selama sepuluh tahun lalu, mengajukan usulan pembangunan jalan tanah puru. Namun, tak jua usulan masyarakat
tersebut diluluskan dan didanai proyek atau program lain. Sampai akhirnya
diusulkan dan didanai PNPM MPd. Integrasi tahun anggaran 2013 setelah 10 tahun
menanti pembangunan tanah puru. Saat ini
pekerjaan pembangunan jalan tanah puru sepanjang 4.000 meter di Desa Sukamandi telah
selesai hanya dalam waktu kurang lebih
30 hari. Betapa solid dan semangat para pengurus TPK dan pelaku-pelaku lain
dalam membangun jalan tanah puru yang menjadi dambaan warga puluhan tahun.
Warga yang bermukim di sepanjang lokasi pekerjaan demikian antusias dan senang luar
biasa.Saya pun senang
dan bangga menjadi Fasilitator
Kecamatan PNPM MPd. Integrasi, meski
ke lapangan harus
melawan terik panas
matahari. Tapi, hal itu terbayarkan lunas setelah
melihat pembangunan drainase
dan pembuatan jalan tanah puru yang rapi. Apalagi kurang lebih ada 50 kepala keluarga
(KK) yang bermukim di sekitar
lokasi dan tentu menjadi penerima manfaat pembangunan jalan tanah puru.
Saya tidak sabar untuk menanti tahun kedua saya menjadi Fasilitator
Kecamatan. Entah cerita
apalagi dan pengalaman apa yang akan saya rasakan tahun selanjutnya. Terlebih lagi usulan-usulan yang akan terdanai PNPM
MPd. Integrasi akan mengarah pada Peningkatan Ekonomi Pendapatan (PEP).Bayangkan
berapa banyak orang atau keluarga yang meningkat kualitas dan taraf hidupnya
apabila usulan-usulan yang
terdanai PNPM MPd. Integrasi tepat sasaran dan mengacu kepada PEP. Besar harapan saya, melalui PNPM MPd. Integrasi, masyarakat lebih banyak yang diberdayakan. Kemiskinan pun tidak lagi menemani mereka yang masih
berada di bawah garis
kemiskinan.
(Loranita, FK PNPM MPd.Integrasi, Kec.Damar, Kab.Belitung Timur)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar