Entri Populer

Rabu, 05 Februari 2014

SANTRI AKHIRNYA BELAJAR DI GEDUNG TPA PERMANEN

ANAK-anak belajar di musalla sebelum dibangun Gedung TPA 
KONDISI Gedung TPA Dusun Bukit Kijang dalam pengerjaan 


PULUHAN anak-anak bermain-main pagi itu, di halaman lokasi bangunan Gedung Taman Pendidikan Al qur an (TPA) Dusun Bukit Panjang, Desa Jelutung, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah. Canda tawa dan wajah ceria mewarnai suasana menjelang jam belajar-mengajar di gedung yang cukup megah yang dibangun dari dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MPd.).

Tak hanya anak-anak Dusun Bukit Panjang yang demikian bergembira karena akhirnya mereka bisa mempelajari ilmu agama di gedung yang permanen setelah puluhan tahun, harus belajar berdesakan di musalla dusun. Para guru dan orangtua serta warga umumnya menyambut gembira terwujudnya mimpi memiliki gedung TPA sendiri. Dusun Bukit Panjang sendiri terletak di bagian barat laut Desa Jelutung, dengan jarak kurang lebih 5 km. dari desa induk. Penduduk Dusun Bukit Panjang sebagian besar adalah pendatang dari pulau Madura, Jawa Timur, tetapi sudah menetap lama di Dusun Bukit Panjang

Usulan pembangunan Gedung TPA awalnya dimulai pada saat pelaksanaan Musyawarah Dusun pada 21 November 2012 di rumah salah satu warga. Salah satu warga yang juga pengajar TPA di Dusun Bukit Panjang, yakni Ustazd Marju’in mengusulkan Pembangunan Gedung TPA. “ Kegiatan belajar-mengajar Taman Pendidikan Al qur an (TPA) di dusun ini sudah berlangsung kurang lebih sepuluh tahun. Selama itu, anak-anak proses belajar-mengajar dilaksanakan di musalla, dengan jumlah santri kurang lebih sebanyak 68 orang dan tenaga pengajar 3 orang,”papar Ustad Marju’in di depan puluhan warga dan guru-guru TPA. 

Selain kegiatan TPA sambung Ustad Marju’in, di Dusun Bukit Kijang juga ada Madrasah Diniyah (pendidikan khusus tentang pembelajaran Kitab Kuning atau Arab Gundul). Sesuai dengan tahapan proses perencanaan kegiatan PNPM MPd. di Desa Jelutung, usulan Pembangunan Gedung TPA setelah disepakati di Musdus, usulan warga tersebut kembali diajukan pada Musyawarah Desa Khusus Perempuan (MDKP) pada 29 Desember 2013, dan akhirnya ditetapkan sebagai Prioritas Usulan dan kemudian disahkan kembali pada Musyawarah Desa Perencanaan (MDP) pada 29 Januari 2013. Setelah ditetapkan sebagai prioritas usulan di tingkat desa dan ditetapkan Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD), Tim Punulis Usulan (TPU) dan Tim Pengelola Kegiatan (TPK) pada MDP, dimulailah proses penyusunan proposal usulan tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan Verifikasi Usulan yang berlansung dari 30 Januari 2013 sampai 15 Februari 2013. 

Setelah melalui perjuangan dan kebersamaan para pelaku PNPM MPd. Desa Jelutung, usulan Pembangunan Gedung TPA mendapatkan ranking dan prioritas kelima pada Musyawarah Antar Desa Prioritas Usulan (MAD) PNPM MPd. pada 18 Februari 2013. Hingga akhirnya, usulan Pembangunan Gedung TPA setelah dilakukan survai harga, pengukuran di lokasi dan pembuatan Desain dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) ditetapkan kembali pada MAD Penetapan Usulan (MAD) dengan mendapatkan volume 6 X 18 m. dan alokasi dana fisik sebesar Rp.266.946.400 jelas Rusmanti, Ketua TPK Desa Jelutung. Rusmanti didampingi Sarferi sebagai bendahara TPK dan Dina menjabat sekretaris TPK. Rusmanti menceritakan bahwa proses Pembangunan Gedung TPA di Dusun Bukit Kijang berlangsung selama empat bulan dengan empat kali tahapan pencairan. 

“Warga begitu antusias dan partisipasi warga amat tinggi terhadap Pembangunan Gedung TPA ini. Hal ini dibuktikan dengan jumlah warga yang hadir dalam setiap pelaksanaan musyawarah, bekerja dan berperan langsung mengawasi pelaksanaan Pembangunan Gedung TPA Bukit Kijang,” papar Rusmanti. Melalui berbagai tahapan kegiatan musyawarah pertanggungjawaban kegiatan dan pendanaan, sampailah akhir pembangunan Gedung TPA Bukit Kijang. Untuk menunjukkan rasa syukur atas selesainya pembangunan dan kelancaran pekerjaan, akhirnya digelar Musyawarah Desa Serah Terima (MDST) sebagai tahap akhir pelaksanaan Musyawarah Desa Pertanggungjawaban. Warga Dusun Bukit Panjang pun menggelar acara Nganggung, yakni laki – laki dan perempuan bersama-sama membawa makanan dalam Dulang, yang ditutupi dengan Tudung Saji.

(Isdianti, FK Pemberdayaan Kecamatan Namang, Bangka Tengah)
























Rabu, 01 Januari 2014

Harian Kompas

kompas.com

Website Pemkab Belitung Timur

www.belitungtimurkab.go.id

Website Pemkab Bangka Tengah

www.bangkatengahkab.go.id

Website Pemkab Bangka Barat

www.bangkabarat.kab.go.id

Bangkapos.com

bangka pos.com

SADAP MENUJU DUSUN MANDIRI BERBASIS KEARIFAN LOKAL


Prolog Pengembangan Dusun dan Desa

SADAP adalah salah satu dusun yang berada di Desa Perlang, Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah.Desa ini memiliki panorama alam  yang memesona, dikelilingi bukit-bukit  yang menghijau dan terkesan sejuk dengan udara yang segar. 

Masyarakat  Dusun Sadap hidup dengan kesahajaan dan berusaha searif mungkin memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Beberapa bagian dusun terlihat ada sisa-sisa kemakmuran zaman keemasan timah. Pasir putih yang mengelilingi kubahan-kubahan air sisa pengerukan timah atau tambang inkonvensional (TI) dan hasil reboisasi dalam usaha pengembalian keselarasan alam. Kubahan-kubahan air tersebut ternyata kemudian membentuk danau-danau kecil atau warga setempat menyebut kulong-kulong buatan  yang indah dan harmonis apalagi jika dipadukan dengan jajaran bukit-bukit kecil yang berada di sekelilingnya.

Penghasilan sebagian besar masyarakat Dusun Sadap dalam bidang pertanian dan sebagian kecil sebagai penambang timah. Menjadi penambang timah memang masih menjadi  pilihan instan warga dalam memeroleh  pendapatan. Meski menimbulkan pertanyaan : benarkah ini merupakan alternatif terakhir dalam memperjuangkan penghasilan ? Indah dari sisi kondisi pemandangan alam sekarang. Entah untuk lima atau sepuluh tahun mendatang? Masihkah kita menemukan dusun Sadap seperti sekarang atau bahkan semakin tergerus oleh  keberadaan  tambang – tambang  timah ?

Sayang, kalau sampai  terkontaminasi oleh keinginan-keinginan sesaat  yang tidak memikirkan kebutuhan masa depan. Konsep pengembangan perdesaan berbasisi kearifan lokal dan alam menjadi pemikiran yang tetap harus diperjuangkan mulai dari sekarang.Kalau tidak sekarang kapan lagi?

Dusun sederhana ini memiliki sumber mata air dari perbukitan yang mengalir terus-menerus  melalui pipasasi dan tak pernah kering sepanjang tahun. Seluruh masyarakat dusun bisa mendapatkan sarana air bersih dan bergotong royong dalam pemeliharaan dengan membayar iuran per bulan. Demikian juga dengan kebutuhan listrik dusun dapat dipenuhi dengan memanfaatkan sumber air yang ada berupa Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH). Suatu kebijakan pembangunan berbasisi kearifan lokal.

Dusun Sadap dengan kesahajaan berbasis kearifan lokal, semoga saja dapat dipertahankan dan dikembangkan menjadi dusun yang memiliki visi dan misi sesuai dengan potensi kedaerahan dusun tersebut. Kejelian masyarakat dan pemerintah daerah dalam pengembangan dusun ini  kedepan akan sangat membantu terwujudnya “Masyarakat Madani”  yang menjadi harapan seluruh masyarakat Dusun Sadap. Semoga.

(Yurizal Mansyur, Fasilitator KabupatenPNPM MPd Bangka Tengah)



SISWA TPA DUSUN SADAP NIKMATI BELAJAR DI GEDUNG PERMANEN

Berkah Masuknya PNPM MPd.

                                            
MASYARAKAT Dusun Sadap, Desa Perlang, Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Barat, khususnya para siswa dan pendidik Taman Pendidikan Al Quran (TPA) mengucapkan terima kasih dengan terbangunnya tambahan bangunan gedung TPA dari dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MPd) tahun anggaran (T.A.) 2013.

Diharapkan dengan keberadaan gedung yang baru akan menambah motivasi belajar, jumlah murid semakin banyak dan terjadi peningkatan prestasi. Walaupun gedung yang didambakan tersebut saat ini masih dalam proses penyelesaian pekerjaan tahap akhir. Diharapkan dengan keberadaan gedung yang baru akan menambah motivasi belajar, jumlah murid semakin bertambah dan terjadi peningkatan prestasi.

Sebenarnya, gedung TPA lama sampai sekarang masih berfungsi,tapi kondisi fisik bangunan sudah semakin memprihatinkan. Demikian pula sarana pembelajaran seperti meja, kursi, papan tulis, lemari dan lain-lain. Apalagi jumlah murid Taman Kanak-kanak Al qur an (TKA) dan TPA sudah mencapai 82 orang.
“ Kalau diperhitungkan dengan ketersediaan lokal belajar saat ini, kondisi ini tidak memadai lagi untuk menampung para siswa belajar  yang menginginkan sarana dan suasana belajar yang nyaman,” kata seorang guru TPA kepada penulis. Karena itu, masyarakat Dusun Sadap mengusulkan penambahan lokal belajar melalui kegiatan dana PNPM MPd.  Alhamdulillah sambung seorang warga pada tahun 2013 ini, usulan kami untuk penambahan lokal gedung TPA berukuran 7 meter x 18 meter bisa terdanai dari PNPM Mandiri Perdesaan.

Gedung TPA yang dikerjakan tukang dan pekerja setempat tersebut dilengkapi dengan sarana meubelair, WC dan tempat wudu. Total dana pembangunan gedung TPA mencapai Rp.238.293.000 dengan pembagian dana sebesar Rp.226.378.000 untuk kegiatan fisik TPA. Sedangkan  Rp. 7.149.000 dialokasikan untuk operasional Tim Pengelola Kegiatan (TPK)  dan Rp.4.766.000 digunakan untuk operasional Unit Pengelola Kegiatan (UPK). 

Awalnya pada 1998 para siswa TKA dan TPA masih belajar menggunakan sarana prasarana di masjid setempat. Dengan berswadaya dan bergotong royong  secara bertahap, masyarakat membangun gedung sederhana sebanyak 2 lokal. Akhirnya pada 2009, para murid TKA danTPA pindah belajar di bangunan yang dikerjakan swadaya warga Dusun Sadap  tersebut.

(Yurizal Mansyur, Fasilitator Kabupaten PNPM MPd. Bangka Tengah

Selasa, 31 Desember 2013

RMC-II PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Koordinator Provinsi  :  Drs. Nanang Legowo

Spesialis MIS            :   Sutrisno, S.Kom.

Spesialis KIE             :   Helmi Fauzi, S.Sos.

Spesialis HRD            :    -

Spesialis P2 M           :    -

Spesialis FMS            :   -

Spesialis MCFS          :   -

Spesialis Infrastruktur  :   -

Spesialis Training        :   -

Senin, 30 Desember 2013

PENGALAMAN MENDAMPINGI

     
             

KUNJUNGAN LAPANGAN mendampingi Koordinator Provinsi, Nanang Legowo (bertopi coklat, kiri), Fasilitator Kabupaten Belitung Timur, Tri Haryono (bertopi biru dan bercelana jeans), Sp.KIE, dan Pengurus TPK Desa Labuhan Mandi.(Dok.Sp.KIE Kep.Babel)
             
                     

                                       

                   BANGGANYA SAYA MENJADI FASILITATOR                        KECAMATAN PNPM MPd.INTEGRASI


TAK kenal, maka tak sayang. Tak sayang, maka tak cinta. Pepatah lama itu sungguh pas dengan yang saya alami dan kerjakan sekarang ini. Sejujurnya, menjadi seorang Fasilitator Kecamatan Pemberdayaan (FKP) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MPd.) Integrasi di Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur,  tak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya.

Mendengar istilah FKP pun saya belum pernah, kecuali saat akan memasukkan lamaran pekerjaan dalam program nasional tersebut. Terbayang bukan bagaimana gelap pengetahuan saya tentang kerja seorang Fasilitator Kecamatan Pemberdayaan (FKP). Melalui bacaan di internet kiranya yang bisa membantu saya meraba-raba apa dan bagaimana pekerjaan seorang FKP.  Pekerjaan purna waktu dan penuh tantangan ini jauh berbeda dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan saya sebelum ini sebagai agen asuransi di salah satu perusahaan asal Toronto, Kanada.

Selama ini,  saya sama sekali tidak mengetahui hal-hal yang berurusan program dan pekerjaan yang berkaitan dengan kemasyarakatan dan pemerintahan pusat dan daerah. Tapi,  jika orang lain memahami dan mampu bekerja sebagai seorang FK Pemberdayaan mengapa saya tidak? Motivasi itulah yang membuat saya memberanikan diri untuk melamar sebagai seorang Fasilitator Kecamatan Pemberdayaan dalam PNPM MPd. Hari-hari pertama menjadi seorang Fasilitator layaknya seseorang yang sedang meraba-raba sekitar dalam kondisi yang gelap.

Tapi, beruntung saya dibimbing dan disupervisi oleh Tim Fasilitator Kabupaten yang sudah cakap dalam bidangnya masing-masing baik pemberdayaan, teknik maupun keuangan. Mereka banyak  membantu, memberi berbagai masukan dan pengetahuan yang mendalam tentang bagaimana menjadi seorang Fasilitator yang digariskan program. Ya, karena memang mereka juga pernah menjadi seorang Fasilitator Kecamatan seperti saya. Butuh waktu dua bulan supaya saya mengerti dan paham alur tahapan yang ada dalam PNPM Integrasi.  Jujur, inilah kali pertama saya berinteraksi langsung dengan pelaku-pelaku desa,  karena kalaupun saya ke desa hanya bertemu sekretaris desa dan kepala desa meminta surat pengantar untuk keperluan pribadi.

Pada hari-hari pertama bertugas sebagai Fasilitator Kecamatan saya sudah harus turun ke lapangan untuk bertemu pelaku-pelaku PNPM Integrasi di kecamatan maupun desa-desa. Tak berhitung bulan, saya pun harus menghadiri acara Musyawwarah Antar Desa (MAD) Prioritas atau MAD PNPM Integrasi tahun anggaran (T.A.) 2013.  Usai MAD II dan kegiatan-kegiatan lain yang ada dalam alur tahapan kegiatan, saya pun memahami visi, misi dan tujuan  PNPM Integrasi. Saya pun berusaha terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan para pelaku demi suksesnya PNPM Integrasi.
Kecamatan Damar tempat saya mengabdi memiliki 5 desa, dan dari  5 desa ada 2 desa yang terdanai oleh bantuan langsung masyarakat (BLM) PNPM MPd. Integrasi .TA. 2013, yakni Desa Mempaya dan Desa Sukamandi. Desa Mempaya mendapatkan dana untuk usulan pembangunan drainase dan Desa Sukamandi untuk pembukaan dan pembangunan jalan tanah puru. Dari dua desa dengan dua usulan tersebut,  saya mendapat pengalaman berharga. Ketika turun  lapangan bersama Tim Verifikasi (TV)-tim yang dibentuk di kecamatan-ke Desa Mempaya untuk mengukur volume dan menentukan kebutuhan materialsaya yang didampingi oleh Fastekab saat itu dihampiri oleh seorang wanita tua-saya  lupa menanyakan nama- dan senang hati menyambut kami.

“Kalau hujan rumah saya ini seperti kolam, karena air masuk rumah. Saya senang karena di depan rumah saya ada pembangunan drainase,” ungkap  wanita tua itu dengan wajah berkaca-kaca. Yang membuat hati saya terenyuh lagi, saat dia menyatakan harapan dengan akan dibuatkan drainase, rumahnya tidak lagi menjadi kolam apabila hujan turun dengan lebatnya.  Ucapan perempuan itu dibenarkan seorang bapak yang menjabat salah satu Ketua RT. “Bukannya tidak akan dibangun drainase di sini, akan tetapi usulan pembangunan drainase belum terdanai. Saya lupa desa pernah mengusulkan soal pembangunan drainase ke intansi mana,” ungkap ketua RT itu.
Tapi bersyukur sekali sambung ketua RT itu, saat proposal usulan pembangunan drainase diajukan pada PNPM MPd. Integrasi langsung disepakati dan dapat didanai. Hal ini karena memang usulan prasarana fisik tersebut  berangkat dari kebutuhan warga dan memang bermanfaat untuk warga sekitar. Saat tulisan ini saya buat, pembangunan drainase di Desa Mempaya sudah memasuki progress (kemajuan) fisik 95%. Saya pun melihat langsung pekerjaan pembuatan saluran pembuanan air tersebut begitu rapi dan cepat dikerjakan. Membuat saya merasa senang sebagai seorang Fasilitator karena ada kerjasama yang baik dari Tim Pengelola Kegiatan (TPK) yang dipilih langsung masyarakat sebagai pengelola keuangan dan pengawas pekerjaan. Masyarakat pun dengan sangat baik dan ramah dapat menerima kehadiran saya sebagai Fasilitator. Semoga pada pengujung tahun yang biasanya memasuki musim penghujan, tidak lagi menjadi kekhawatiran warga sekitar lokasi kegiatan pembangunan drainase setelah sudah ada saluran pembuangan air yang dibangun melalui dana PNPM MPd. Integrasi.

Pengalaman yang menarik juga saya dapatkan dari Desa Sukamandi, yang selama sepuluh tahun lalu, mengajukan usulan pembangunan jalan tanah puru. Namun, tak jua usulan masyarakat tersebut diluluskan dan didanai proyek atau program lain. Sampai akhirnya diusulkan dan didanai PNPM MPd. Integrasi tahun anggaran 2013 setelah 10 tahun menanti pembangunan tanah puru.  Saat ini pekerjaan pembangunan jalan tanah puru sepanjang 4.000 meter di Desa Sukamandi telah selesai  hanya dalam waktu kurang lebih 30 hari. Betapa solid dan semangat para pengurus TPK dan pelaku-pelaku lain dalam membangun jalan tanah puru yang menjadi dambaan warga puluhan tahun. Warga yang bermukim di sepanjang lokasi pekerjaan demikian antusias dan senang luar biasa.Saya pun senang dan bangga menjadi Fasilitator Kecamatan PNPM MPd. Integrasi,  meski ke lapangan harus melawan terik panas matahari. Tapi, hal itu terbayarkan lunas setelah melihat pembangunan drainase dan pembuatan jalan tanah puru yang rapi. Apalagi kurang lebih ada 50 kepala keluarga (KK) yang bermukim di sekitar lokasi dan tentu menjadi penerima manfaat pembangunan jalan tanah puru.  Saya tidak sabar untuk menanti tahun kedua saya menjadi Fasilitator Kecamatan. Entah cerita apalagi dan pengalaman apa yang akan saya rasakan tahun selanjutnya. Terlebih lagi usulan-usulan yang akan terdanai PNPM MPd. Integrasi akan mengarah pada Peningkatan Ekonomi Pendapatan (PEP).Bayangkan berapa banyak orang atau keluarga yang meningkat kualitas dan taraf hidupnya apabila usulan-usulan yang terdanai PNPM MPd. Integrasi tepat sasaran dan mengacu kepada PEP.  Besar harapan saya, melalui PNPM MPd. Integrasi, masyarakat lebih banyak yang diberdayakan. Kemiskinan pun tidak lagi menemani mereka yang masih berada di bawah garis kemiskinan.

(Loranita, FK PNPM MPd.Integrasi, Kec.Damar, Kab.Belitung Timur)