Entri Populer

Rabu, 01 Januari 2014

Harian Kompas

kompas.com

Website Pemkab Belitung Timur

www.belitungtimurkab.go.id

Website Pemkab Bangka Tengah

www.bangkatengahkab.go.id

Website Pemkab Bangka Barat

www.bangkabarat.kab.go.id

Bangkapos.com

bangka pos.com

SADAP MENUJU DUSUN MANDIRI BERBASIS KEARIFAN LOKAL


Prolog Pengembangan Dusun dan Desa

SADAP adalah salah satu dusun yang berada di Desa Perlang, Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah.Desa ini memiliki panorama alam  yang memesona, dikelilingi bukit-bukit  yang menghijau dan terkesan sejuk dengan udara yang segar. 

Masyarakat  Dusun Sadap hidup dengan kesahajaan dan berusaha searif mungkin memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Beberapa bagian dusun terlihat ada sisa-sisa kemakmuran zaman keemasan timah. Pasir putih yang mengelilingi kubahan-kubahan air sisa pengerukan timah atau tambang inkonvensional (TI) dan hasil reboisasi dalam usaha pengembalian keselarasan alam. Kubahan-kubahan air tersebut ternyata kemudian membentuk danau-danau kecil atau warga setempat menyebut kulong-kulong buatan  yang indah dan harmonis apalagi jika dipadukan dengan jajaran bukit-bukit kecil yang berada di sekelilingnya.

Penghasilan sebagian besar masyarakat Dusun Sadap dalam bidang pertanian dan sebagian kecil sebagai penambang timah. Menjadi penambang timah memang masih menjadi  pilihan instan warga dalam memeroleh  pendapatan. Meski menimbulkan pertanyaan : benarkah ini merupakan alternatif terakhir dalam memperjuangkan penghasilan ? Indah dari sisi kondisi pemandangan alam sekarang. Entah untuk lima atau sepuluh tahun mendatang? Masihkah kita menemukan dusun Sadap seperti sekarang atau bahkan semakin tergerus oleh  keberadaan  tambang – tambang  timah ?

Sayang, kalau sampai  terkontaminasi oleh keinginan-keinginan sesaat  yang tidak memikirkan kebutuhan masa depan. Konsep pengembangan perdesaan berbasisi kearifan lokal dan alam menjadi pemikiran yang tetap harus diperjuangkan mulai dari sekarang.Kalau tidak sekarang kapan lagi?

Dusun sederhana ini memiliki sumber mata air dari perbukitan yang mengalir terus-menerus  melalui pipasasi dan tak pernah kering sepanjang tahun. Seluruh masyarakat dusun bisa mendapatkan sarana air bersih dan bergotong royong dalam pemeliharaan dengan membayar iuran per bulan. Demikian juga dengan kebutuhan listrik dusun dapat dipenuhi dengan memanfaatkan sumber air yang ada berupa Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH). Suatu kebijakan pembangunan berbasisi kearifan lokal.

Dusun Sadap dengan kesahajaan berbasis kearifan lokal, semoga saja dapat dipertahankan dan dikembangkan menjadi dusun yang memiliki visi dan misi sesuai dengan potensi kedaerahan dusun tersebut. Kejelian masyarakat dan pemerintah daerah dalam pengembangan dusun ini  kedepan akan sangat membantu terwujudnya “Masyarakat Madani”  yang menjadi harapan seluruh masyarakat Dusun Sadap. Semoga.

(Yurizal Mansyur, Fasilitator KabupatenPNPM MPd Bangka Tengah)



SISWA TPA DUSUN SADAP NIKMATI BELAJAR DI GEDUNG PERMANEN

Berkah Masuknya PNPM MPd.

                                            
MASYARAKAT Dusun Sadap, Desa Perlang, Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Barat, khususnya para siswa dan pendidik Taman Pendidikan Al Quran (TPA) mengucapkan terima kasih dengan terbangunnya tambahan bangunan gedung TPA dari dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MPd) tahun anggaran (T.A.) 2013.

Diharapkan dengan keberadaan gedung yang baru akan menambah motivasi belajar, jumlah murid semakin banyak dan terjadi peningkatan prestasi. Walaupun gedung yang didambakan tersebut saat ini masih dalam proses penyelesaian pekerjaan tahap akhir. Diharapkan dengan keberadaan gedung yang baru akan menambah motivasi belajar, jumlah murid semakin bertambah dan terjadi peningkatan prestasi.

Sebenarnya, gedung TPA lama sampai sekarang masih berfungsi,tapi kondisi fisik bangunan sudah semakin memprihatinkan. Demikian pula sarana pembelajaran seperti meja, kursi, papan tulis, lemari dan lain-lain. Apalagi jumlah murid Taman Kanak-kanak Al qur an (TKA) dan TPA sudah mencapai 82 orang.
“ Kalau diperhitungkan dengan ketersediaan lokal belajar saat ini, kondisi ini tidak memadai lagi untuk menampung para siswa belajar  yang menginginkan sarana dan suasana belajar yang nyaman,” kata seorang guru TPA kepada penulis. Karena itu, masyarakat Dusun Sadap mengusulkan penambahan lokal belajar melalui kegiatan dana PNPM MPd.  Alhamdulillah sambung seorang warga pada tahun 2013 ini, usulan kami untuk penambahan lokal gedung TPA berukuran 7 meter x 18 meter bisa terdanai dari PNPM Mandiri Perdesaan.

Gedung TPA yang dikerjakan tukang dan pekerja setempat tersebut dilengkapi dengan sarana meubelair, WC dan tempat wudu. Total dana pembangunan gedung TPA mencapai Rp.238.293.000 dengan pembagian dana sebesar Rp.226.378.000 untuk kegiatan fisik TPA. Sedangkan  Rp. 7.149.000 dialokasikan untuk operasional Tim Pengelola Kegiatan (TPK)  dan Rp.4.766.000 digunakan untuk operasional Unit Pengelola Kegiatan (UPK). 

Awalnya pada 1998 para siswa TKA dan TPA masih belajar menggunakan sarana prasarana di masjid setempat. Dengan berswadaya dan bergotong royong  secara bertahap, masyarakat membangun gedung sederhana sebanyak 2 lokal. Akhirnya pada 2009, para murid TKA danTPA pindah belajar di bangunan yang dikerjakan swadaya warga Dusun Sadap  tersebut.

(Yurizal Mansyur, Fasilitator Kabupaten PNPM MPd. Bangka Tengah

Selasa, 31 Desember 2013

RMC-II PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Koordinator Provinsi  :  Drs. Nanang Legowo

Spesialis MIS            :   Sutrisno, S.Kom.

Spesialis KIE             :   Helmi Fauzi, S.Sos.

Spesialis HRD            :    -

Spesialis P2 M           :    -

Spesialis FMS            :   -

Spesialis MCFS          :   -

Spesialis Infrastruktur  :   -

Spesialis Training        :   -

Senin, 30 Desember 2013

PENGALAMAN MENDAMPINGI

     
             

KUNJUNGAN LAPANGAN mendampingi Koordinator Provinsi, Nanang Legowo (bertopi coklat, kiri), Fasilitator Kabupaten Belitung Timur, Tri Haryono (bertopi biru dan bercelana jeans), Sp.KIE, dan Pengurus TPK Desa Labuhan Mandi.(Dok.Sp.KIE Kep.Babel)
             
                     

                                       

                   BANGGANYA SAYA MENJADI FASILITATOR                        KECAMATAN PNPM MPd.INTEGRASI


TAK kenal, maka tak sayang. Tak sayang, maka tak cinta. Pepatah lama itu sungguh pas dengan yang saya alami dan kerjakan sekarang ini. Sejujurnya, menjadi seorang Fasilitator Kecamatan Pemberdayaan (FKP) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MPd.) Integrasi di Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur,  tak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya.

Mendengar istilah FKP pun saya belum pernah, kecuali saat akan memasukkan lamaran pekerjaan dalam program nasional tersebut. Terbayang bukan bagaimana gelap pengetahuan saya tentang kerja seorang Fasilitator Kecamatan Pemberdayaan (FKP). Melalui bacaan di internet kiranya yang bisa membantu saya meraba-raba apa dan bagaimana pekerjaan seorang FKP.  Pekerjaan purna waktu dan penuh tantangan ini jauh berbeda dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan saya sebelum ini sebagai agen asuransi di salah satu perusahaan asal Toronto, Kanada.

Selama ini,  saya sama sekali tidak mengetahui hal-hal yang berurusan program dan pekerjaan yang berkaitan dengan kemasyarakatan dan pemerintahan pusat dan daerah. Tapi,  jika orang lain memahami dan mampu bekerja sebagai seorang FK Pemberdayaan mengapa saya tidak? Motivasi itulah yang membuat saya memberanikan diri untuk melamar sebagai seorang Fasilitator Kecamatan Pemberdayaan dalam PNPM MPd. Hari-hari pertama menjadi seorang Fasilitator layaknya seseorang yang sedang meraba-raba sekitar dalam kondisi yang gelap.

Tapi, beruntung saya dibimbing dan disupervisi oleh Tim Fasilitator Kabupaten yang sudah cakap dalam bidangnya masing-masing baik pemberdayaan, teknik maupun keuangan. Mereka banyak  membantu, memberi berbagai masukan dan pengetahuan yang mendalam tentang bagaimana menjadi seorang Fasilitator yang digariskan program. Ya, karena memang mereka juga pernah menjadi seorang Fasilitator Kecamatan seperti saya. Butuh waktu dua bulan supaya saya mengerti dan paham alur tahapan yang ada dalam PNPM Integrasi.  Jujur, inilah kali pertama saya berinteraksi langsung dengan pelaku-pelaku desa,  karena kalaupun saya ke desa hanya bertemu sekretaris desa dan kepala desa meminta surat pengantar untuk keperluan pribadi.

Pada hari-hari pertama bertugas sebagai Fasilitator Kecamatan saya sudah harus turun ke lapangan untuk bertemu pelaku-pelaku PNPM Integrasi di kecamatan maupun desa-desa. Tak berhitung bulan, saya pun harus menghadiri acara Musyawwarah Antar Desa (MAD) Prioritas atau MAD PNPM Integrasi tahun anggaran (T.A.) 2013.  Usai MAD II dan kegiatan-kegiatan lain yang ada dalam alur tahapan kegiatan, saya pun memahami visi, misi dan tujuan  PNPM Integrasi. Saya pun berusaha terus berkoordinasi dan berkomunikasi dengan para pelaku demi suksesnya PNPM Integrasi.
Kecamatan Damar tempat saya mengabdi memiliki 5 desa, dan dari  5 desa ada 2 desa yang terdanai oleh bantuan langsung masyarakat (BLM) PNPM MPd. Integrasi .TA. 2013, yakni Desa Mempaya dan Desa Sukamandi. Desa Mempaya mendapatkan dana untuk usulan pembangunan drainase dan Desa Sukamandi untuk pembukaan dan pembangunan jalan tanah puru. Dari dua desa dengan dua usulan tersebut,  saya mendapat pengalaman berharga. Ketika turun  lapangan bersama Tim Verifikasi (TV)-tim yang dibentuk di kecamatan-ke Desa Mempaya untuk mengukur volume dan menentukan kebutuhan materialsaya yang didampingi oleh Fastekab saat itu dihampiri oleh seorang wanita tua-saya  lupa menanyakan nama- dan senang hati menyambut kami.

“Kalau hujan rumah saya ini seperti kolam, karena air masuk rumah. Saya senang karena di depan rumah saya ada pembangunan drainase,” ungkap  wanita tua itu dengan wajah berkaca-kaca. Yang membuat hati saya terenyuh lagi, saat dia menyatakan harapan dengan akan dibuatkan drainase, rumahnya tidak lagi menjadi kolam apabila hujan turun dengan lebatnya.  Ucapan perempuan itu dibenarkan seorang bapak yang menjabat salah satu Ketua RT. “Bukannya tidak akan dibangun drainase di sini, akan tetapi usulan pembangunan drainase belum terdanai. Saya lupa desa pernah mengusulkan soal pembangunan drainase ke intansi mana,” ungkap ketua RT itu.
Tapi bersyukur sekali sambung ketua RT itu, saat proposal usulan pembangunan drainase diajukan pada PNPM MPd. Integrasi langsung disepakati dan dapat didanai. Hal ini karena memang usulan prasarana fisik tersebut  berangkat dari kebutuhan warga dan memang bermanfaat untuk warga sekitar. Saat tulisan ini saya buat, pembangunan drainase di Desa Mempaya sudah memasuki progress (kemajuan) fisik 95%. Saya pun melihat langsung pekerjaan pembuatan saluran pembuanan air tersebut begitu rapi dan cepat dikerjakan. Membuat saya merasa senang sebagai seorang Fasilitator karena ada kerjasama yang baik dari Tim Pengelola Kegiatan (TPK) yang dipilih langsung masyarakat sebagai pengelola keuangan dan pengawas pekerjaan. Masyarakat pun dengan sangat baik dan ramah dapat menerima kehadiran saya sebagai Fasilitator. Semoga pada pengujung tahun yang biasanya memasuki musim penghujan, tidak lagi menjadi kekhawatiran warga sekitar lokasi kegiatan pembangunan drainase setelah sudah ada saluran pembuangan air yang dibangun melalui dana PNPM MPd. Integrasi.

Pengalaman yang menarik juga saya dapatkan dari Desa Sukamandi, yang selama sepuluh tahun lalu, mengajukan usulan pembangunan jalan tanah puru. Namun, tak jua usulan masyarakat tersebut diluluskan dan didanai proyek atau program lain. Sampai akhirnya diusulkan dan didanai PNPM MPd. Integrasi tahun anggaran 2013 setelah 10 tahun menanti pembangunan tanah puru.  Saat ini pekerjaan pembangunan jalan tanah puru sepanjang 4.000 meter di Desa Sukamandi telah selesai  hanya dalam waktu kurang lebih 30 hari. Betapa solid dan semangat para pengurus TPK dan pelaku-pelaku lain dalam membangun jalan tanah puru yang menjadi dambaan warga puluhan tahun. Warga yang bermukim di sepanjang lokasi pekerjaan demikian antusias dan senang luar biasa.Saya pun senang dan bangga menjadi Fasilitator Kecamatan PNPM MPd. Integrasi,  meski ke lapangan harus melawan terik panas matahari. Tapi, hal itu terbayarkan lunas setelah melihat pembangunan drainase dan pembuatan jalan tanah puru yang rapi. Apalagi kurang lebih ada 50 kepala keluarga (KK) yang bermukim di sekitar lokasi dan tentu menjadi penerima manfaat pembangunan jalan tanah puru.  Saya tidak sabar untuk menanti tahun kedua saya menjadi Fasilitator Kecamatan. Entah cerita apalagi dan pengalaman apa yang akan saya rasakan tahun selanjutnya. Terlebih lagi usulan-usulan yang akan terdanai PNPM MPd. Integrasi akan mengarah pada Peningkatan Ekonomi Pendapatan (PEP).Bayangkan berapa banyak orang atau keluarga yang meningkat kualitas dan taraf hidupnya apabila usulan-usulan yang terdanai PNPM MPd. Integrasi tepat sasaran dan mengacu kepada PEP.  Besar harapan saya, melalui PNPM MPd. Integrasi, masyarakat lebih banyak yang diberdayakan. Kemiskinan pun tidak lagi menemani mereka yang masih berada di bawah garis kemiskinan.

(Loranita, FK PNPM MPd.Integrasi, Kec.Damar, Kab.Belitung Timur)

Kamis, 26 Desember 2013

PROFIL PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

Nama Resmi:Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Ibukota:Pangkal Pinang
Luas Wilayah:16.424,06 Km2 *)
Jumlah Penduduk:1.059.481 jiwa *)
Suku Bangsa:Suku Melayu (suku bangsa asli), Jawa, Sunda , Bugis, Banten, Banjar, Madura, Palembang, Minang, Aceh, Flores,Maluku, Manado dan Cina(30%)
Agama:Islam : 81,83%, Budha : 8,71 %, Kong Hu Cu : 5,11 %, Kristen : 2,44%, Kristen Katolik : 1.79%, dan Hindu : 0,13%
Wilayah Administrasi
Website
:
:
Kab.: 6, Kota : 1, Kec.: 36, Kel.: 54, Desa : 267 *)
http://www.babelprov.go.id
*)Sumber : Permendagri Nomor 6 Tahun 2008

Sejarah


Wilayah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, terutama Pulau Bangka berganti  ganti menjadi  daerah taklukan Kerajaan Sriwijaya, dan Majapahit. Setelah kapitulasi dengan Belanda, Kepulauan Bangka Belitung menjadi jajahan Inggris sebagai Duke of Island20 Mei 1812 kekuasaan Inggris berakhir setelah konvensi London 13 Agustus 1824, terjadi perlalihan kekuasaan daerah jajahan Kepulauan Bangka Belitung antara MH. Court (Inggris) dengan K.Hcyes (Belanda) di Mentok pada 10 Desember 1816.Kekuasaan Belanda mendapat perlawanan Depati Barin dan putranya Depati Amir yang di kenal sebagai perang Depati Amir (1849-1851). Kekalahan perang Depati Amir menyebabkan Depati Amir di asingkan ke Desa Air Mata Kupang NTT. 

Atas dasar stbl. 565, tanggal 2 Desember 1933 pada tanggal 11 Maret 1933 di bentuk Resindetil Bangka Belitung Onderhoregenheden yang dipimpin seorang residen Bangka Belitung dengan 6 Onderafdehify yang di pimpin oleh Ast. Residen. Di Pulau Bangka terdapat 5 Onderafdehify yang akhirnya menjadi 5 Karesidenan sedang di Pulau Belitung terdapat 1 Karesidenan.Pada zaman Jepang, Karesidenan Bangka Belitung diperintah oleh Pemerintahan Militer Jepang (Bangka Beliton Ginseibu). Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, oleh Belanda dibentuk Dewan Bangka Sementara pada 10 Desember 1946 (stbl.1946 No.38) yang selanjutnya resmi menjadi Dewan Bangka, yang diketuai Musarif Datuk Bandaharo Leo yang dilantik Belanda pada 11 November 1947. Dewan 
Bangka merupakan Lembaga Pemerintahan Otonomi Tinggi.

Pada 23 Januari 1948 (stb1.1948 No.123), Dewan Bangka, Dewan Belitung dan Dewan Riau bergabung dalam Federasi Bangka Belitung dan Riau (FABERI) yang merupakan suatu bagian dalam Negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Berdasarkan Keputusan Presiden RIS Nomor 141 Tahun 1950 kembali bersatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga berlaku undang-undang Nomor 22 Tahun 1948.Pada tanggal 22 April 1950 oleh Pemerintah diserahkan wilayah Bangka Belitung kepada Gubernur Sumatera Selatan Dr. Mohd. lsa yang disaksikan oleh Perdana Menteri Dr. Hakim dan Dewan Bangka Belitung dibubarkan. Sebagai Residen Bangka Belitung ditunjuk R.Soemardja yang berkedudukan di Pangkalpinang. Berdasarkan UUDS 1950 dan UU Nomor 22 Tahun 1948 dan UU Darurat Nomor 4 tanggal 16 November 1956 Karesidenan Bangka Belitung berada di Sumatera Selatan yaitu Kabupaten Bangka dan dibentuk juga kota kecil Pangkalpinang.

Berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 1957 Pangkalpinang menjadi Kota Praja. Pada tanggal 13 Mei 1971 Presiden Soeharto meresmikan Sungai Liat sebagai ibukota Kabupaten Bangka. Berdasarkan UU Nomor 27 Tahun 2000 wilayah Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka dan Kabupaten Belitung menjadi Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selanjutnya sejak tanggal 27 Januari 2003 Propinsi Kepualauan Bangka Belitung mengalami pemekaran wilayah dengan menambah 4 Kabupaten baru yaitu Kabupaten Bangka Barat, Bangka Tengah, Belitung Timur dan Bangka Selatan.

Arti Logo

Perisai Bersudut Lima, melambangkan Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kepulauan Bangka Belitung, melambangkan wilayah, masyarakat, sistem pemerintah, kebudayaan dan sumberdaya alam Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Lingkaran Bulat Simetrikal, melambangkan kesatuan dan persatuan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam menghadapi segala tantangan di tengah - tengah peradaban dunia yang semakin terbuka.
Butir Padi berjumlah 27 buah melambangkan nomor dari Undang-undang pembentukan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu UU No.27 Tahun 2000,dan Buah Lada, berjumlah 31 buah melambangkan Kepulauan Bangka Belitung merupakan Propinsi ke 31 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Padi dan buah lada juga melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran.
Balok Timah, melambangkan kekayaan alam (hasil bumi pokok) berupa timah yang dalam sejarah secara social ekonomis telah menopang kehidupan masyarakat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung selama lebih dari 300 tahun. (diketemukan dan dikelola sejak tahun 1710 Mary Schommers dalam Bangka Tin)
Biru Tua dan Biru Muda (Dalam Perisai dan Lingkaran Hitam), melambangkan bahari dunia kelautan dari yang dangkal sampai yang terdalam. Menyiratkan lautan dengan segala kekayaan alam yang ada di atasnya, di dalam dan di dasar lautan yang dapat dimanfaatkan untuk sebesar - besarnya bagi kesejahteraan rakyat. 
Putih (Tulisan), melambangkan keteguhan dan perdamaian.
Kuning ( Padi dan Semboyan), melambangkan ketentraman dan kekuatan. 
Hijau (Pulau dan Lada), melambangkan kesuburan. 
Hitam (Outline Lingkaran), melambangkan ketegasan.
Serumpun Sebalai, menunjukan bahwa kekayaan alam dan plularisme masyarakat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung tetap merupakan kelurga besar komunitas (serumpun) yang memiliki perjuangan yang sama untuk menciptakan kesejahteraan , kemakmuran, keadilan dan perdamaian.

Untuk mewujudkan perjuangan tersebut, dengan budaya masyarakat melayu berkumpul, bermusyawarah, mufakat, berkerjasama dan bersyukur bersama-sama dalam semangat kekeluargaan (sebalai) merupakan wahana yang paling kuat untuk dilestarikan dan dikembangkan. Nilai- nilai universal budaya ini juga dimiliki oleh beragam etnis yang hidup di Bumi Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Dengan demikian, Serumpun Sebalai mencerminkan sebuah eksistensi masyarakat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan kesadaran dan citaƂ­citanya untuk tetap menjadi keluarga besar yang dalam perjuangan dan proses kehidupannya senantiasa mengutamakan dialog secara kekeluargaan, musyawarah dan mufakat serta berkerja sama dan senantiasa mensyukuri nikmat Tuhan untuk mencapai masyarakat adil dan makmur. 
Serumpun Sebalai, merupakan semboyan penegakan demokrasi melalui musyawarah dan mufakat.

Nilai Budaya

Seni Budaya yang berkembang di wilayah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung ini sangat beragam dan menggambarkan keanekaragaman suku bangsa dan agama. Yang merupakan kekayaan seni budaya di Bangka Belitung berupa Seni Tari, Seni Drama, Seni Musik, Interior bangunan dan upacara-upacara adat.

Produk Budaya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Produk budaya di Bangka Belitung diantaranya yaitu : Seni tari di pulau Bangka; Tari Campah, Tari Kedidi, Tari Tabar, Tari lapin, Tari Melimbang Timah. Di Pulau Belitung berkembang tari Nusor Tebing, tari Bitiong dan tari Randau. Seni drama antara lain, drama putri Sri Rinai dan Dul Muluk.
Seni Musik antara lain, Bedindak Bedaeh, Lagu Yak Miak, Icak-icak Dek Tau. Seni Interior yang khususnya di Bangka dan Belitung di pengaruhi oleh gaya arsitektur Cina. 

Upacara-upacara Adat : Upacara-upacara adat yang menjadi khasanah budaya Bangka Belitung antara lain: Perang Ketupat, Nnirok Nanggak dan Tuang Jong dan Nganggung serta Kawin Massal.
Kerajinan Khas Bangka : Kerajinan Khasnya yaitu : Kopiah resam dan Kain Cual.
Falsafah Hidup Masyarakat setempat :
Serumpun Sebalai, adalah suatu bentuk etika kehidupan keseharian masyarakat Bangka Belitung yang rukun damai dan dalam hubungan kekeluargaan walaupun terdiri dari bermacam-macam etnis dan agama.
Jangan Dak Kawa Nyusa Aok, artinya dalam setiap keberhasilan memerlukan kerja keras.