Entri Populer
-
SEKRETARIS Jenderal S ekjen) Dewan Pengurus Nasional Ikatan Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (DPN IPPMI), ...
-
ANAK-anak belajar di musalla sebelum dibangun Gedung TPA KONDISI Gedung TPA Dusun Bukit Kijang dalam pengerjaan PULUHAN ...
-
PERAN KPMD DALAM MENGAWASI PENGEMBALIAN DANA SPP BAGI para pelaku Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM ...
-
FASILITATOR Pemberdayaan PNPM MPd.Integrasi Bangka Tengah,Kep.Bangka Belitung,Rizal Mansyur, saat memberikan pada Peserta Workshop Peny...
-
S alah satu bentuk fasilitasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan yang lebih diakrabi ol...
-
Lima FK PNPM MPd. Bangka Belitung Ikuti Pelatihan Mandiri LIMA FK (2 FKT dan 3 FKT) PNPM MPd. Kep.Bangka Belitung, hasil rekrutmen N...
-
PENYALURAN DANA BERGULIR SPP DI JEBUS LEBIHI TARGET SEJAK tahun 2008 sampai Oktober 2013, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat, m...
-
Segenap Spesialis, Fasilitator dan Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan merasakan duka-cita yang mendalam dan merasakan kehilangan atas berpu...
Rabu, 01 Januari 2014
SADAP MENUJU DUSUN MANDIRI BERBASIS KEARIFAN LOKAL
Prolog Pengembangan Dusun dan Desa
SADAP adalah salah
satu dusun yang berada di Desa Perlang, Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka
Tengah.Desa ini memiliki panorama alam yang
memesona, dikelilingi bukit-bukit yang
menghijau dan terkesan sejuk dengan udara yang segar.
Masyarakat Dusun Sadap hidup dengan kesahajaan dan
berusaha searif mungkin memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Beberapa bagian
dusun terlihat ada sisa-sisa kemakmuran zaman
keemasan timah. Pasir putih yang mengelilingi kubahan-kubahan air sisa pengerukan timah atau tambang inkonvensional (TI) dan hasil reboisasi dalam usaha
pengembalian keselarasan alam. Kubahan-kubahan air tersebut ternyata
kemudian membentuk danau-danau
kecil atau warga setempat menyebut kulong-kulong buatan yang indah dan harmonis apalagi jika
dipadukan dengan jajaran bukit-bukit kecil yang berada di sekelilingnya.
Penghasilan
sebagian besar masyarakat Dusun Sadap dalam bidang pertanian dan sebagian kecil sebagai penambang timah. Menjadi penambang timah memang masih menjadi
pilihan instan warga dalam memeroleh pendapatan. Meski menimbulkan pertanyaan : benarkah ini merupakan alternatif terakhir dalam memperjuangkan penghasilan ? Indah dari sisi kondisi pemandangan alam sekarang. Entah untuk lima atau sepuluh tahun mendatang? Masihkah
kita menemukan dusun Sadap seperti sekarang atau bahkan semakin tergerus
oleh keberadaan tambang – tambang timah ?
Sayang, kalau sampai
terkontaminasi oleh keinginan-keinginan sesaat yang tidak memikirkan kebutuhan masa depan.
Konsep pengembangan perdesaan berbasisi kearifan lokal dan alam menjadi pemikiran yang tetap harus
diperjuangkan mulai dari sekarang.Kalau tidak sekarang kapan lagi?
Dusun sederhana
ini memiliki sumber mata air dari perbukitan yang mengalir terus-menerus melalui pipasasi dan tak
pernah kering sepanjang tahun. Seluruh masyarakat dusun bisa mendapatkan sarana
air bersih dan bergotong royong dalam pemeliharaan dengan membayar iuran per bulan. Demikian juga dengan kebutuhan listrik dusun dapat
dipenuhi dengan memanfaatkan sumber air yang ada berupa Pembangkit Listrik
Tenaga Micro Hidro (PLTMH). Suatu kebijakan pembangunan berbasisi kearifan
lokal.
Dusun Sadap
dengan kesahajaan berbasis kearifan lokal, semoga saja dapat dipertahankan dan
dikembangkan menjadi dusun yang memiliki visi dan misi sesuai dengan potensi kedaerahan
dusun tersebut. Kejelian masyarakat dan pemerintah daerah dalam pengembangan
dusun ini kedepan akan sangat membantu
terwujudnya “Masyarakat Madani” yang menjadi harapan seluruh masyarakat Dusun
Sadap. Semoga.
(Yurizal Mansyur, Fasilitator KabupatenPNPM
MPd Bangka Tengah)
SISWA TPA DUSUN SADAP NIKMATI BELAJAR DI GEDUNG PERMANEN
Berkah Masuknya PNPM MPd.
MASYARAKAT Dusun
Sadap, Desa Perlang, Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Barat, khususnya
para siswa dan pendidik Taman Pendidikan Al Quran (TPA) mengucapkan terima
kasih dengan terbangunnya tambahan bangunan gedung TPA dari dana Bantuan
Langsung Masyarakat (BLM) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri
Perdesaan (PNPM MPd) tahun anggaran (T.A.) 2013.
Diharapkan dengan
keberadaan gedung yang baru akan menambah motivasi belajar, jumlah murid semakin banyak dan terjadi
peningkatan prestasi. Walaupun gedung yang didambakan tersebut saat ini masih
dalam proses penyelesaian pekerjaan tahap akhir. Diharapkan dengan keberadaan
gedung yang baru akan menambah motivasi belajar, jumlah murid semakin bertambah dan terjadi peningkatan prestasi.
Sebenarnya,
gedung TPA lama sampai sekarang masih berfungsi,tapi kondisi fisik bangunan
sudah semakin memprihatinkan. Demikian pula sarana pembelajaran seperti meja, kursi, papan tulis,
lemari dan lain-lain. Apalagi jumlah murid Taman Kanak-kanak Al qur an (TKA) dan TPA sudah mencapai 82 orang.
“ Kalau diperhitungkan dengan ketersediaan lokal belajar
saat ini, kondisi ini tidak memadai
lagi untuk menampung para siswa belajar yang menginginkan sarana
dan
suasana belajar yang nyaman,”
kata seorang guru TPA kepada penulis. Karena itu, masyarakat Dusun Sadap mengusulkan penambahan lokal belajar melalui kegiatan dana PNPM MPd.
Alhamdulillah sambung seorang warga pada tahun 2013 ini, usulan kami untuk penambahan
lokal gedung TPA berukuran 7 meter x 18 meter bisa terdanai dari PNPM Mandiri Perdesaan.
Gedung TPA yang dikerjakan tukang dan pekerja
setempat tersebut dilengkapi dengan sarana meubelair, WC dan tempat wudu. Total dana pembangunan gedung
TPA mencapai Rp.238.293.000 dengan pembagian dana sebesar Rp.226.378.000 untuk kegiatan
fisik TPA. Sedangkan Rp.
7.149.000 dialokasikan untuk operasional
Tim Pengelola Kegiatan (TPK) dan
Rp.4.766.000 digunakan untuk operasional Unit Pengelola Kegiatan (UPK).
Awalnya pada 1998 para siswa TKA dan TPA masih belajar menggunakan sarana prasarana di masjid setempat. Dengan berswadaya dan bergotong royong secara bertahap, masyarakat membangun gedung sederhana sebanyak 2 lokal. Akhirnya pada 2009, para murid TKA danTPA pindah
belajar di bangunan yang dikerjakan swadaya warga Dusun Sadap tersebut.
Selasa, 31 Desember 2013
RMC-II PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
Koordinator Provinsi : Drs. Nanang Legowo
Spesialis MIS : Sutrisno, S.Kom.
Spesialis KIE : Helmi Fauzi, S.Sos.
Spesialis HRD : -
Spesialis P2 M : -
Spesialis FMS : -
Spesialis MCFS : -
Spesialis Infrastruktur : -
Spesialis Training : -
Spesialis MIS : Sutrisno, S.Kom.
Spesialis KIE : Helmi Fauzi, S.Sos.
Spesialis HRD : -
Spesialis P2 M : -
Spesialis FMS : -
Spesialis MCFS : -
Spesialis Infrastruktur : -
Spesialis Training : -
Senin, 30 Desember 2013
PENGALAMAN MENDAMPINGI
BANGGANYA SAYA MENJADI
FASILITATOR KECAMATAN PNPM MPd.INTEGRASI
TAK kenal, maka tak sayang. Tak sayang, maka tak cinta. Pepatah lama itu sungguh pas dengan yang saya alami dan kerjakan sekarang ini. Sejujurnya, menjadi seorang Fasilitator Kecamatan Pemberdayaan (FKP) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MPd.) Integrasi di Kecamatan Damar, Kabupaten Belitung Timur, tak pernah terpikirkan oleh saya sebelumnya.
Mendengar
istilah FKP pun saya belum pernah, kecuali saat akan memasukkan lamaran pekerjaan
dalam program nasional tersebut. Terbayang bukan bagaimana gelap pengetahuan saya tentang kerja seorang Fasilitator Kecamatan
Pemberdayaan (FKP). Melalui
bacaan di internet kiranya yang bisa membantu saya meraba-raba
apa dan bagaimana pekerjaan seorang FKP. Pekerjaan purna waktu dan penuh tantangan
ini jauh berbeda dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan saya sebelum
ini sebagai agen asuransi di salah satu perusahaan asal Toronto, Kanada.
Selama
ini, saya sama sekali tidak mengetahui hal-hal yang berurusan program dan
pekerjaan yang berkaitan dengan
kemasyarakatan dan pemerintahan
pusat dan daerah. Tapi,
jika orang lain memahami dan mampu bekerja sebagai seorang FK
Pemberdayaan mengapa saya tidak? Motivasi itulah yang membuat saya memberanikan diri
untuk melamar sebagai seorang Fasilitator Kecamatan Pemberdayaan dalam
PNPM MPd. Hari-hari
pertama menjadi seorang Fasilitator layaknya seseorang yang sedang meraba-raba sekitar
dalam kondisi yang gelap.
Tapi, beruntung saya dibimbing dan disupervisi oleh Tim Fasilitator Kabupaten yang sudah cakap dalam bidangnya
masing-masing baik pemberdayaan, teknik maupun keuangan. Mereka banyak membantu, memberi
berbagai masukan dan pengetahuan yang mendalam tentang
bagaimana menjadi seorang Fasilitator yang digariskan program. Ya, karena memang mereka juga pernah menjadi seorang Fasilitator Kecamatan
seperti saya. Butuh waktu
dua bulan supaya saya
mengerti dan paham alur tahapan yang ada dalam PNPM Integrasi. Jujur, inilah kali pertama saya berinteraksi langsung dengan pelaku-pelaku desa, karena kalaupun saya ke desa hanya bertemu
sekretaris desa dan kepala desa meminta surat pengantar untuk keperluan pribadi.
Pada hari-hari pertama bertugas sebagai Fasilitator Kecamatan saya sudah harus turun ke lapangan untuk
bertemu pelaku-pelaku PNPM Integrasi di kecamatan maupun desa-desa. Tak
berhitung bulan, saya pun harus menghadiri acara Musyawwarah Antar Desa (MAD) Prioritas atau MAD PNPM
Integrasi tahun anggaran (T.A.) 2013. Usai MAD II
dan kegiatan-kegiatan lain yang ada dalam alur tahapan kegiatan, saya pun memahami
visi, misi dan tujuan PNPM Integrasi. Saya pun
berusaha terus berkoordinasi
dan berkomunikasi dengan para pelaku demi suksesnya PNPM Integrasi.
Kecamatan
Damar tempat saya mengabdi memiliki 5 desa, dan dari 5 desa ada 2 desa yang
terdanai oleh bantuan langsung masyarakat (BLM) PNPM MPd. Integrasi
.TA. 2013, yakni
Desa Mempaya dan Desa Sukamandi. Desa Mempaya mendapatkan dana
untuk usulan pembangunan drainase dan Desa Sukamandi untuk pembukaan dan pembangunan jalan tanah puru. Dari dua desa
dengan dua usulan tersebut, saya mendapat pengalaman berharga.
Ketika turun lapangan bersama Tim Verifikasi (TV)-tim yang
dibentuk di kecamatan-ke Desa Mempaya untuk mengukur volume dan menentukan
kebutuhan material, saya yang didampingi oleh Fastekab
saat itu dihampiri oleh seorang wanita tua-saya
lupa menanyakan nama- dan senang hati menyambut kami.
“Kalau hujan rumah saya ini seperti kolam, karena air
masuk rumah. Saya senang karena di depan rumah saya ada pembangunan drainase,” ungkap wanita tua itu dengan wajah berkaca-kaca. Yang membuat
hati saya terenyuh lagi, saat
dia menyatakan harapan dengan akan dibuatkan drainase, rumahnya tidak lagi menjadi kolam apabila hujan turun dengan lebatnya. Ucapan perempuan itu dibenarkan seorang bapak yang menjabat salah satu Ketua RT. “Bukannya tidak akan dibangun drainase di sini, akan tetapi usulan pembangunan drainase belum terdanai. Saya lupa desa pernah mengusulkan soal
pembangunan drainase ke
intansi mana,”
ungkap ketua RT itu.
Tapi bersyukur sekali sambung ketua
RT itu, saat proposal
usulan pembangunan drainase diajukan pada PNPM MPd. Integrasi langsung disepakati dan dapat didanai. Hal ini karena memang usulan prasarana
fisik tersebut berangkat dari kebutuhan warga dan memang bermanfaat untuk warga
sekitar. Saat tulisan ini saya buat, pembangunan drainase di Desa Mempaya sudah memasuki progress (kemajuan) fisik
95%. Saya pun melihat
langsung pekerjaan pembuatan saluran pembuanan air tersebut begitu rapi dan
cepat dikerjakan. Membuat saya merasa senang sebagai seorang Fasilitator karena
ada kerjasama yang baik dari Tim Pengelola Kegiatan (TPK) yang dipilih langsung
masyarakat sebagai pengelola keuangan dan pengawas pekerjaan. Masyarakat
pun dengan sangat baik dan ramah dapat menerima kehadiran saya sebagai Fasilitator. Semoga
pada pengujung tahun yang
biasanya memasuki musim
penghujan, tidak lagi menjadi kekhawatiran warga sekitar lokasi kegiatan
pembangunan drainase setelah sudah ada saluran pembuangan air yang dibangun melalui dana PNPM MPd. Integrasi.
Pengalaman yang menarik juga saya dapatkan dari Desa
Sukamandi, yang selama sepuluh tahun lalu, mengajukan usulan pembangunan jalan tanah puru. Namun, tak jua usulan masyarakat
tersebut diluluskan dan didanai proyek atau program lain. Sampai akhirnya
diusulkan dan didanai PNPM MPd. Integrasi tahun anggaran 2013 setelah 10 tahun
menanti pembangunan tanah puru. Saat ini
pekerjaan pembangunan jalan tanah puru sepanjang 4.000 meter di Desa Sukamandi telah
selesai hanya dalam waktu kurang lebih
30 hari. Betapa solid dan semangat para pengurus TPK dan pelaku-pelaku lain
dalam membangun jalan tanah puru yang menjadi dambaan warga puluhan tahun.
Warga yang bermukim di sepanjang lokasi pekerjaan demikian antusias dan senang luar
biasa.Saya pun senang
dan bangga menjadi Fasilitator
Kecamatan PNPM MPd. Integrasi, meski
ke lapangan harus
melawan terik panas
matahari. Tapi, hal itu terbayarkan lunas setelah
melihat pembangunan drainase
dan pembuatan jalan tanah puru yang rapi. Apalagi kurang lebih ada 50 kepala keluarga
(KK) yang bermukim di sekitar
lokasi dan tentu menjadi penerima manfaat pembangunan jalan tanah puru.
Saya tidak sabar untuk menanti tahun kedua saya menjadi Fasilitator
Kecamatan. Entah cerita
apalagi dan pengalaman apa yang akan saya rasakan tahun selanjutnya. Terlebih lagi usulan-usulan yang akan terdanai PNPM
MPd. Integrasi akan mengarah pada Peningkatan Ekonomi Pendapatan (PEP).Bayangkan
berapa banyak orang atau keluarga yang meningkat kualitas dan taraf hidupnya
apabila usulan-usulan yang
terdanai PNPM MPd. Integrasi tepat sasaran dan mengacu kepada PEP. Besar harapan saya, melalui PNPM MPd. Integrasi, masyarakat lebih banyak yang diberdayakan. Kemiskinan pun tidak lagi menemani mereka yang masih
berada di bawah garis
kemiskinan.
(Loranita, FK PNPM MPd.Integrasi, Kec.Damar, Kab.Belitung Timur)
Kamis, 26 Desember 2013
PROFIL PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
| Nama Resmi | : | Provinsi Kepulauan Bangka Belitung |
| Ibukota | : | Pangkal Pinang |
| Luas Wilayah | : | 16.424,06 Km2 *) |
| Jumlah Penduduk | : | 1.059.481 jiwa *) |
| Suku Bangsa | : | Suku Melayu (suku bangsa asli), Jawa, Sunda , Bugis, Banten, Banjar, Madura, Palembang, Minang, Aceh, Flores,Maluku, Manado dan Cina(30%) |
| Agama | : | Islam : 81,83%, Budha : 8,71 %, Kong Hu Cu : 5,11 %, Kristen : 2,44%, Kristen Katolik : 1.79%, dan Hindu : 0,13% |
| Wilayah Administrasi Website | : : | Kab.: 6, Kota : 1, Kec.: 36, Kel.: 54, Desa : 267 *) http://www.babelprov.go.id *)Sumber : Permendagri Nomor 6 Tahun 2008 |
Sejarah
Wilayah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, terutama Pulau Bangka berganti ganti menjadi daerah taklukan Kerajaan Sriwijaya, dan Majapahit. Setelah kapitulasi dengan Belanda, Kepulauan Bangka Belitung menjadi jajahan Inggris sebagai Duke of Island. 20 Mei 1812 kekuasaan Inggris berakhir setelah konvensi London 13 Agustus 1824, terjadi perlalihan kekuasaan daerah jajahan Kepulauan Bangka Belitung antara MH. Court (Inggris) dengan K.Hcyes (Belanda) di Mentok pada 10 Desember 1816.Kekuasaan Belanda mendapat perlawanan Depati Barin dan putranya Depati Amir yang di kenal sebagai perang Depati Amir (1849-1851). Kekalahan perang Depati Amir menyebabkan Depati Amir di asingkan ke Desa Air Mata Kupang NTT.
Atas dasar stbl. 565, tanggal 2 Desember 1933 pada tanggal 11 Maret 1933 di bentuk Resindetil Bangka Belitung Onderhoregenheden yang dipimpin seorang residen Bangka Belitung dengan 6 Onderafdehify yang di pimpin oleh Ast. Residen. Di Pulau Bangka terdapat 5 Onderafdehify yang akhirnya menjadi 5 Karesidenan sedang di Pulau Belitung terdapat 1 Karesidenan.Pada zaman Jepang, Karesidenan Bangka Belitung diperintah oleh Pemerintahan Militer Jepang (Bangka Beliton Ginseibu). Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, oleh Belanda dibentuk Dewan Bangka Sementara pada 10 Desember 1946 (stbl.1946 No.38) yang selanjutnya resmi menjadi Dewan Bangka, yang diketuai Musarif Datuk Bandaharo Leo yang dilantik Belanda pada 11 November 1947. Dewan
Bangka merupakan Lembaga Pemerintahan Otonomi Tinggi.
Pada 23 Januari 1948 (stb1.1948 No.123), Dewan Bangka, Dewan Belitung dan Dewan Riau bergabung dalam Federasi Bangka Belitung dan Riau (FABERI) yang merupakan suatu bagian dalam Negara Republik Indonesia Serikat (RIS). Berdasarkan Keputusan Presiden RIS Nomor 141 Tahun 1950 kembali bersatu dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) hingga berlaku undang-undang Nomor 22 Tahun 1948.Pada tanggal 22 April 1950 oleh Pemerintah diserahkan wilayah Bangka Belitung kepada Gubernur Sumatera Selatan Dr. Mohd. lsa yang disaksikan oleh Perdana Menteri Dr. Hakim dan Dewan Bangka Belitung dibubarkan. Sebagai Residen Bangka Belitung ditunjuk R.Soemardja yang berkedudukan di Pangkalpinang. Berdasarkan UUDS 1950 dan UU Nomor 22 Tahun 1948 dan UU Darurat Nomor 4 tanggal 16 November 1956 Karesidenan Bangka Belitung berada di Sumatera Selatan yaitu Kabupaten Bangka dan dibentuk juga kota kecil Pangkalpinang.
Berdasarkan UU Nomor 1 Tahun 1957 Pangkalpinang menjadi Kota Praja. Pada tanggal 13 Mei 1971 Presiden Soeharto meresmikan Sungai Liat sebagai ibukota Kabupaten Bangka. Berdasarkan UU Nomor 27 Tahun 2000 wilayah Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka dan Kabupaten Belitung menjadi Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selanjutnya sejak tanggal 27 Januari 2003 Propinsi Kepualauan Bangka Belitung mengalami pemekaran wilayah dengan menambah 4 Kabupaten baru yaitu Kabupaten Bangka Barat, Bangka Tengah, Belitung Timur dan Bangka Selatan.
Arti Logo
Perisai Bersudut Lima, melambangkan Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kepulauan Bangka Belitung, melambangkan wilayah, masyarakat, sistem pemerintah, kebudayaan dan sumberdaya alam Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Lingkaran Bulat Simetrikal, melambangkan kesatuan dan persatuan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam menghadapi segala tantangan di tengah - tengah peradaban dunia yang semakin terbuka.
Butir Padi berjumlah 27 buah melambangkan nomor dari Undang-undang pembentukan Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu UU No.27 Tahun 2000,dan Buah Lada, berjumlah 31 buah melambangkan Kepulauan Bangka Belitung merupakan Propinsi ke 31 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Padi dan buah lada juga melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran.
Balok Timah, melambangkan kekayaan alam (hasil bumi pokok) berupa timah yang dalam sejarah secara social ekonomis telah menopang kehidupan masyarakat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung selama lebih dari 300 tahun. (diketemukan dan dikelola sejak tahun 1710 Mary Schommers dalam Bangka Tin)
Biru Tua dan Biru Muda (Dalam Perisai dan Lingkaran Hitam), melambangkan bahari dunia kelautan dari yang dangkal sampai yang terdalam. Menyiratkan lautan dengan segala kekayaan alam yang ada di atasnya, di dalam dan di dasar lautan yang dapat dimanfaatkan untuk sebesar - besarnya bagi kesejahteraan rakyat.
Putih (Tulisan), melambangkan keteguhan dan perdamaian.
Kuning ( Padi dan Semboyan), melambangkan ketentraman dan kekuatan.
Hijau (Pulau dan Lada), melambangkan kesuburan.
Hitam (Outline Lingkaran), melambangkan ketegasan.
Serumpun Sebalai, menunjukan bahwa kekayaan alam dan plularisme masyarakat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung tetap merupakan kelurga besar komunitas (serumpun) yang memiliki perjuangan yang sama untuk menciptakan kesejahteraan , kemakmuran, keadilan dan perdamaian.
Untuk mewujudkan perjuangan tersebut, dengan budaya masyarakat melayu berkumpul, bermusyawarah, mufakat, berkerjasama dan bersyukur bersama-sama dalam semangat kekeluargaan (sebalai) merupakan wahana yang paling kuat untuk dilestarikan dan dikembangkan. Nilai- nilai universal budaya ini juga dimiliki oleh beragam etnis yang hidup di Bumi Propinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Dengan demikian, Serumpun Sebalai mencerminkan sebuah eksistensi masyarakat Propinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan kesadaran dan citaĆcitanya untuk tetap menjadi keluarga besar yang dalam perjuangan dan proses kehidupannya senantiasa mengutamakan dialog secara kekeluargaan, musyawarah dan mufakat serta berkerja sama dan senantiasa mensyukuri nikmat Tuhan untuk mencapai masyarakat adil dan makmur.
Serumpun Sebalai, merupakan semboyan penegakan demokrasi melalui musyawarah dan mufakat.
Nilai Budaya
Seni Budaya yang berkembang di wilayah Propinsi Kepulauan Bangka Belitung ini sangat beragam dan menggambarkan keanekaragaman suku bangsa dan agama. Yang merupakan kekayaan seni budaya di Bangka Belitung berupa Seni Tari, Seni Drama, Seni Musik, Interior bangunan dan upacara-upacara adat.
Produk Budaya di Provinsi Kepulauan Bangka BelitungProduk budaya di Bangka Belitung diantaranya yaitu : Seni tari di pulau Bangka; Tari Campah, Tari Kedidi, Tari Tabar, Tari lapin, Tari Melimbang Timah. Di Pulau Belitung berkembang tari Nusor Tebing, tari Bitiong dan tari Randau. Seni drama antara lain, drama putri Sri Rinai dan Dul Muluk.
Seni Musik antara lain, Bedindak Bedaeh, Lagu Yak Miak, Icak-icak Dek Tau. Seni Interior yang khususnya di Bangka dan Belitung di pengaruhi oleh gaya arsitektur Cina.
Upacara-upacara Adat : Upacara-upacara adat yang menjadi khasanah budaya Bangka Belitung antara lain: Perang Ketupat, Nnirok Nanggak dan Tuang Jong dan Nganggung serta Kawin Massal.
Kerajinan Khas Bangka : Kerajinan Khasnya yaitu : Kopiah resam dan Kain Cual.
Falsafah Hidup Masyarakat setempat :
Serumpun Sebalai, adalah suatu bentuk etika kehidupan keseharian masyarakat Bangka Belitung yang rukun damai dan dalam hubungan kekeluargaan walaupun terdiri dari bermacam-macam etnis dan agama.
Jangan Dak Kawa Nyusa Aok, artinya dalam setiap keberhasilan memerlukan kerja keras.
Langganan:
Postingan (Atom)